Publicado por 2 semanas hace
34.14K seguidores
788 views
14 likes
1 comments
0 shares
๐ฃ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐๐ป๐ฎ๐ป ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ต๐ถ๐น๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฟ๐ฎ๐ต ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐ธ๐ฒ๐๐ฎ๐บ๐ฝ๐ถ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ป. Di tengah arus pembangunan, ukuran keberhasilan sering kali dipersempit pada ramainya seremoni, meningkatnya angka ekonomi, dan padatnya agenda formal. Semua itu tentu penting, namun menjadi tidak utuh ketika kebudayaan justru diletakkan di barisan belakang. Sebab masyarakat tidak hidup dari angka semata, tetapi juga dari identitas, ingatan, dan rasa memiliki terhadap warisan yang membentuk dirinya. Hari ini, ruang perhatian lebih mudah terbuka untuk kegiatan seremonial keagamaan dan agenda ekonomi, sementara kebudayaan kerap dianggap cukup hadir sebagai pelengkap acara. Bahkan tidak jarang, kehadiran para seniman mereka yang menjaga ingatan kolektif, merawat tradisi, dan menyuarakan nurani masyarakat tidak memperoleh sambutan yang layak di ruang-ruang pengambilan keputusan. Padahal seniman bukan hanya penghibur. Mereka adalah penjaga rasa, penerjemah zaman, dan penghubung antara masa lalu, masa kini, serta masa depan. Melalui karya, seniman menghidupkan nilai-nilai yang tak selalu mampu dijelaskan oleh data dan laporan. Mereka menjaga agar masyarakat tetap memiliki wajah di tengah derasnya perubahan. Ketika kebudayaan dipinggirkan, dampaknya memang tidak selalu langsung terlihat. Tidak ada angka statistik yang segera menunjukkan kehilangan itu. Namun perlahan, generasi muda tumbuh jauh dari akar budayanya, tradisi kehilangan pewaris, dan masyarakat kehilangan ruang untuk mengenali dirinya sendiri. Kemajuan berjalan, tetapi jiwa bersama mulai menipis. Tidak ada yang salah dengan perhatian pada agama maupun ekonomi. Keduanya adalah bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Namun kebudayaan seharusnya berdiri sejajar, bukan menjadi pilihan terakhir. Sebab agama memberi nilai spiritual, ekonomi memberi kesejahteraan, dan kebudayaan memberi identitas serta makna hidup bersama. Karena itu, ruang kepemimpinan perlu dibuka lebih luas bagi kebudayaan. Kehadiran seniman perlu dihargai, gagasan budaya perlu didengar, dan warisan lokal perlu dijadikan bagian dari arah pembangunan. Pemimpin yang besar bukan hanya yang mampu menggerakkan anggaran dan agenda, tetapi juga yang peka menjaga jiwa masyarakatnya. Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan hanya seberapa ramai panggung seremoni dibangun, atau seberapa tinggi angka pertumbuhan dicapai, tetapi juga apakah sebuah generasi masih mengenal akar budayanya sendiri. Penulis: Nurfadilah, S.I.P, M.I.Kom (Founder Yayasan Badara) #karewasakkiniang #jepamandar